Bapak Rektor Qu

Mimpi Pendidikan Mantan Kuli Bangunan

Kisah panjang perjalanan hidup Prof. Dr. Muchlas Samani, ternyata ber­awal dari sebidang tanah kosong tak bertuan. Tanah pinggiran sungai di desa Carat Ponorogo itu tak cukup besar; hanya berukuran 3×4 meter saja. Tetapi dari sanalah cerita itu bermula. Ketika musim paceklik melanda dae­rahnya di tahun 1960-an, tanah itulah yang dipergunakan ayahnya untuk menanam cabe – meskipun waktu itu musim kemarau. Ketika aliran sungai melimpah, maka tanah itu pun akan mendapatkan rembesan air yang cukup.

Namun bukan itu yang mengantar sejarah hidupnya, melainkan di tempat inilah terjadi sebuah dialog yang sangat membekas. Waktu itu Muchlas kecil masih belum lulus Sekolah Dasar. Sambil melakukan pekerjaannya, lelaki kelahiran Ponorogo 15 Desember 1951 ini mendengarkan keluh kesah bapak­nya: “Ya… beginilah hidupnya sese­orang yang bodoh itu. Cukuplah saya saja yang merasakannya. Anak cucu saya nanti jangan sampai ada yang mengalami nasib seperti ini. Makanya, kelak kamu harus jadi orang yang pinter.”

 

 

 

untuk yang lebih lengkap klik : disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s