Hukum Merokok dalam Perspektif Hukum Islam

Allah SWT menciptakan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan dan dikelola oleh umat manusia. Dengan demikian, hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil atau indikator yang menyatakan diharamkannya. Dalil atau indikator  dimaksud dapat berupa ketentuan hukum al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 59. Untuk persoalan hukum yang sudah terdapat ketentuannya dalam al-Qur’an dan as-Sunah serta ijma’ tidak lagi perlu dipersoalkan karena sudah cukup jelas, kecuali pada bagian teknis yang berpotensi memunculkan penafsiran atau interpretasi. Sedangkan persoalan hukum yang belum ada ketentuan dari ketiganya, maka untuk menetapkan hukumnya perlu dilakukan ijtihad dengan berbagai variannya seperti qiyas atau analogi terhadap persoalan yang sudah ada ketentuan hukumnya. Pada wilayah yang bersifat ijtihadi inilah peluang terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama itu cukup besar.

Persoalan hukum merokok merupakan salah satu di antara produk hukum hasil ijtihad para ulama yang ditetapkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip kemaslahatan yang menjadi tujuan umum diberlakukannya syariat.

Hukum Merokok HaramHukum Merokok
Secara eksplisit tidak ada dalil al-Qur’an, as-Sunnah maupun ijma ulama tentang hukum asal merokok. Meskipun demikian, utnuk menentukan hukum merokok dapat dilakukan dengan merujuk pada dalil al-Qur’an maupun as-Sunnah yang bersifat umum. Di antara dalil al-Qur’an yang dapat dijadikan rujukan untuk menetapkan larangan rokok adalah Surat al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan”. Dari as-Sunnah di antaranya hadis Nabi SAW riwayat Ibnu Majah yang artinya, “tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membuat bahaya untuk orang lain”. Juga hadis Nabi SAW yang melarang untuk menyia-nyiakan harta benda dan alokasi harta pada hal yang tidak bermanfaat.

Dari penggunaan dalil yang bersifat umum itu terjadilah perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menentukan status dilarangnya merokok. Apakah larangan hukum merokok itu haram atau makruh atau yang lain seperti mubah. Kalau merokok itu hukumnya sunnah atau bahkan wajib sepertinya tidak mungkin, meskipun ada kaidah usul fiqh yang menyebutkan bahwa berlakunya hukum itu tergantung illat atau alasannya.

Ulama yang berpendapat haram beralasan bahwa berdasarkan ayat al-Qur’an dan as-Sunnah di atas tersirat makna bahwa merokok termasuk perbuatan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Dan segala upaya yang mengarah kepada terjadinya kebinasaan itu merupakan sesuatu yang haram dan oleh karenanya harus dicegah. Merokok dapat dikategorikan sebagai perbuatan haram. Di samping berbahaya bagi diri sendiri (merusak kesehatan dan mengancam keselamatan jiwa seseorang), merokok juga membahayakan bagi orang lain dan lingkungan yang harus dihindari. Merokok juga dapat dikategorikan sebagai perbuatan menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak memiliki nilai manfaat. Padahal penghamburan uang itu sesuatu yang dilarang dalam agama.

Sedangkan ulama yang berpendapat makruh atau bahkan mubah beralasan bahwa ayat al-Qur’an maupun as-Sunnah yang bersifat umum tidak dapat dijadikan sebagai dalil utama diharamkannya merokok. Pelarangan merokok tidak dapat disamakan dengan minuman keras yang ketentuan hukumnya terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Untuk itu terlalu jauh dan berlebihan jika menetapkan hukum haram pada perbuatan merokok.

Dari kedua pendapat di atas, secara umum para ulama berpendapat bahwa merokok itu merupakan perbuatan yang dilarang. Hanya saja penetapan kadar larangannya itu berbeda. Perbedaan tentang hukum merokok ini tentu harus dilihat dari aspek manfaat (maslahah) maupun madarat yang diakibatkan oleh merokok. Dalam kaitan inilah, para ulama Usul Fiqh menetapkan 5 hal pokok yang harus dipelihara dalam kehidupan umat manusia. Lima hal pokok itu adalah; memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara akal, memelihara kehormatan (harga diri/keturunan) dan memelihara harta benda. Segala perbuatan yang memiliki potensi mengganggu lima hal pokok yang merupakan prinsip kemaslahatan itu harus dihindari.

untuk yang lebih lengkapnya dapat diunduh : disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s